Jumat, 07 Januari 2011

07/01/2011

07/01/2011

RABI’AH AL-’ADAWIYAH DAN ZUNNUN AL-MISRI
Oleh: Abdul Hafizh, SHI 

A.     Pendahuluan
Sikap zuhud yang diterapkan dalam kehidupan dunia adalah cikal bakal tumbuhnya tasawuf, sedangkan zuhud itu sendiri adalah bersumber dari ajaran Islam. Pemahaman dan pengamalan zuhud yang berkembang sejak abad pertama hijriah, benar- benar berdasarkan ajaran Islam, baik yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah maupun kehidupan sahabat nabi. Sikap hidup dan keberagamaan yang mereka anut adalah berkisar pada usaha yang sungguh- sungguh untuk memperoleh kebahagian akhirat dengan memperbanyak ibadah serta menghindarkan diri dari kehidupan dunia (zuhud dunia).
Dari konsep zuhud lahirlah tasawuf, salah satu diantaranya adalah tasawuf sunni. Salah satu tujuan terpenting dari ajaran tasawuf adalah berada sedekat mungkin dengan Allah. Makna dekat dengan Allah akan melahirkan tiga ajaran dasar sufisme yaitu; al-Hubb al-Ilahi (kecintaan dan kerinduan kepada Allah), al-wahdat as-syuhud (menyatu dengan Allah), al-mukasyafah (penangkapan langsung terhadap Allah, tanpa ada penghalang).
Al-Hubb al-Ilahi (kecintaan dan kerinduan kepada Allah) adalah salah satu ajaran yang dikembangkan oleh Rabiah, sedangkan al-mukasyafah digambarkan oleh Zunnun Al-Misri bahwa ia berada bersama Allah, karena keberadaan itulah ia mengenal Allah secara hakiki (al-ma’rifah). Untuk lebih rincinya mengenal kedua sufi terkenal ini beserta ajarannya, pemakalah akan mengulas pada pembahagian sub-sub berikutnya.

B.     Rabi’ah Al-’Adawiyah
  1. Riwayat Hidup Rabi’ah  Al-Adawiyah
Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah. Dia lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M, lalu hidup sebagai hamba sahaya keluarga Atik. Dia berasal dari keluaga miskin dan dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota ini namanya sangat harum sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang shaleh semasanya. Dia meninggal pada tahun 185 H/801 M dan dikuburkan di dekat kota Jerussalem.[1]
Kedua orang tuanya meninggal sewaktu dia masih kecil. Menurut pendapat lain, Rabi’ah al-Adawiyah pernah dijual sebagai seorang hamba (budak)/ penyanyi seharga 6 dirham yang kemudian dibebaskan dan memperoleh kemerdekaannya kembali. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadah, bertaubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kesederhanaan dan menolak segala bantuan material yang diberikan orang kepadanya. Dalam berbagai doa yang dipanjatkannya, ia tidak mau meminta hal- hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Tuhan. Di dalam Tazkirah al- Auliya, disebukan bahwa pada suatu malam ketika Rabi’ah al-Adawiyah sedang asyik beribadah, majikannya melihat lantera tanpa rantai berada di atas kepalanya, sementara cahaya menyinari segenap ruangan rumah. Menyaksikan hal tersebut, majikannya merasa takut, ketika hari telah terang ia memanggil Rabi’ah al-Adawiyah lalu membebaskannya. Setelah itu Rabi’ah meninggalkan rumah tuanya tersebut dan menuju kesuatu padang pasir ke suatu tempat pertapaan. Semenjak itu Rabi’ah benar-benar hidup dalam kemiskinan, dan ketika teman-teman ingin membantunya, bahkan ada yang ingin memberikan rumah kepadanya. Ia mengatakan : “Aku takut kalau-kalau rumah ini akan mengikat hatiku, sehingga aku terganggu melaksanakan amal untuk akhirat”. Kepada seorang pengunjung ia memberi nasihat: “pandanglah dunia ini sebagai sesuatu yang hina dan tak berharga itu adalah lebih baik bagimu”[2]. Penulis meyakini bahwa sulit “manusia” untuk menerima pernyataan Rabi’ah al-Adawiyah ini. Karena disamping masih memakai akal pikiran yang masih memikirkan dunia dan juga masih memiliki jasmani yang masih membutuhkan kebutuhan jasmaniyah (makan, minun, pakaian, tempat tinggal dan lain- lain). Dalam hal ini sulit dibayangkan siapa dia yang sebenarnya.
Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, dipandang mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta (ﺍﻟﺤﺏ) khas sufi ke dalam mistisisme dalam Islam. Sebagai seorang wanita zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa pria shaleh, dengan mengatakan[3]:
Akad nikah adalah hak Pemilik alam semesta. Sedangkan bagi diriku, hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri! Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup di dalam naungan firman-Nya. Akad nikah mesti diminta dari-Nya, bukan dariku”.
Dalam salah satu riwayat dikatakan, dia adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadah, bertaubat dan menjauhi hidup duniawi. Bahkan dalam do’anya ia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat pada Tuhan. Di antara ucapannya yang terkenal tentang zuhud ialah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub[4]:
”Suatu ketika aku membaca cerita bahwa hartawan berkata kepada Rabi’ah: ’Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!’ Rabi’ah menjawab: ”Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada pemiliknya. Maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepada orang yang bukan pemiliknya?”
Sebagaimana halnya para zahid sebelum dan semasanya, diapun selalu diliputi tangis dan rasa sedih. Al-Sya’rani, misalnya, dalam Al-Tabaqat al-Kubra’ menyatakan bahwa ”dia sering menangis dan bersedih hati. Jika ia diingatkan tentang neraka, maka beberapa lama dia jatuh pingsan, sementara tempat sujudnya selalu basah oleh air matanya.” Dan diriwayatkan bahwa Rabi’ah terus-menerus shalat sepanjang malam setiap harinya. Kalau fajar tiba, dia tidur beberapa saat sampai fajar lewat. Diriwayatkan pula bahwa ketika banguntidur dia selalu berkata: ”Duh jiwa! Berapa lama kau tertidur tanpa bangkit lagi kecuali oleh terompet hari kebangkitan!” Demikianlah hal ini dilakukannya setiap hari sampai meninggal dunia.[5]

  1. Konsep al-Hubb al-Ilahi menurut Rabi’ah al- Adawiyah
Menurutnya, al-hubb al-ilahi merupakan cetusan dari perasaan jiwa yang rindu dan pasrah terhadap Allah. Seluruh ingatan dan perasaan tertuju kepada-Nya. Hal ini tergambar dalam ungkapan prosanya berikut ini[6]:
“Wahai Tuhanku!, tenggelamkanlah aku dalam mencintai-Mu, sehingga tidak membimbangkan aku dari pada-Mu. Ya Tuhan, bintang di Langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran, pintu- pintu istana telah dikunci dan tiap pencinta telah menyendiri dengan yang dicintainya, dan inilah aku berada di hadirat-Mu. Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera datang, aku gelisah apakah amalanku Engkau terima hingga aku merasa bahagia, apakah engkau tolak sehingga aku merasa sedih. Demi Kemahakuasaan-Mu, inilah yang aku lakukan sehingga engkau beri hayat (hidup). Sekiranya engkau usir aku dari hadapan-Mu aku tidak akan pergi, karena cinta pada-Mu telah memenuhi hatiku”.
Isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdi, melakukan amal shaleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi karena cintanya kepada Allah. Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah dan cinta itu pulalah yang membuat ia sedih dan menangis karena takut terpisah dari yang dicintainya. Allah Baginya merupakan zat yang dicintai, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Dalam hubungan ini dia pernah berucap:
”Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka...bukan pula karena ingin masuk surga...tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. Tuhanku, jika kupuja Engkau karena takut pada neraka, bakarlah aku didalamnya dan jika kupuja Engkau karena mengharap surga, jauhkanlah aku daripadanya, tetapi jika Engkau kupuja semata-mata karena Engkau, maka janganlah sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dari diriku”[7].
Beliau sezaman dengan Sufyan Sauri, murid yang terkenal dari Hasan al-Basri. Pada suatu hari didengarnya Sufyan mengeluh: ”Wahai sedihnya hatiku”, yaitu kesedihan shufi yang telah diwariskan oleh gurunya. Mendengar itu berkata Rabi’ah: ”Kesedihan kita masih sedikit sekali!. Karena kalau benar-benar kita bersedih, kita tidak ada di dunia ini lagi!”[8]
Penulis beranggapan bahwa, Rabi’ah al-Adawiyah telah melihat Tuhannya dalam batasan “penghayalan” karena cintanya yang terlalu larut. Tidak mungkin dalam bayangan akal pikiran, karena bagaimana pun pandangan zahir tetap terbatas sebatas alam nyata. Tetapi pandangan batin yang dilakukan oleh cahaya nurani saat berada di alam bawah sadar yang aktif secara sempurna itulah pandangan yang sempurna (ma’rifat). Hai inilah yang seakan-akan telah berpandangan dengan Tuhan, sebagaimana yang telah dirasakan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Tetapi bagaimanapun, perasaan Rabiah al-‘Adawiyah melihat Tuhannya tidak akan dapat dirasakan oleh orang lain, karena setiap orang kekuatan iman dan makrifatnya berbeda- beda. Iman dan ma’rifat Rabiah al- Adawiyah berada di atas segalanya. Sehingga kalau dalam syairnya dia mengungkapkan:
“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Cinta karena diriku ialah keadaanku senantiasa mengingat-Mu. Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau ku lihat. Baik untuk ini dan untuk itu pujian bukanlah bagiku. Dan bagi-Mu lah pujian untuk semuanya”[9].
Tampak jelas bahwa cinta Rabi’ah al-Aldawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sadarkan diri karena hadir bersama Allah, seperti terungkap dalam syairnya[10]:
Aku cinta kau dengan dua model cinta
Cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta
Adapun cinta rindu, karena hanya Kau kukenang selalu, bukan selain-Mu
Adapun cinta karena Kau layak dicinta,
karena kau singkapkan tirai sampai Kau nyata bagiku
Bagiku, tidak ada puji untuk ini dan itu.
Tapi sekalian puji hanya bagi-Mu selalu.
Selajutnya, dalam larik syairnya yang lain, dia menungkapkan isi hatinya sebagai berikut:
Buah hatiku, cintaku hanya pada-Mu
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari diri-Mu
Karena seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta  Ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci yang lain. Seseorang pernah bertanya kepadanya: ”Apakah engkau benci pada syetan?” Ia menjawab: ”Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada syetan.” Karena begitu cintanya kepada Tuhan, ia pernah ditanya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab: ”Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk”[11].
Inilah beberapa ucapan rasa cinta yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi seluruh jiwanya. Sehingga ia menolak semua tawaran kawin dengan alasan bahwa dirinya adalah milik Allah, yang dicintainya dan siapa yang ingin kawin dengannya haruslah meminta izin kepada Allah[12].
Dengan demikian jelaslah bahwa konsep al-hubb berdasarkan pengalaman Rabi’ah al-Adawiyah dalam ritual tasawufnya adalah dengan menjadikan Allah sebagai segala- galanya, tidak ada yang melebihi dari-Nya sesuatu pun makhluk yang telah Ia ciptakan. Semua perhatian dan pikiran selalu tercurah kepada-Nya sebagai bukti cinta-kasih hanya semata-mata untuk-Nya. Bahkan pengabdian hidup yang diwujudkan dalam bentuk ibadah bukanlah untuk mengharapkan balasan apa-apa dari-Nya, baik berupa surga maupun takut karena siksa neraka. Namun pengabdian itu semata-mata karena Allah kekasih yang paling dicintainya. Semuanya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bahkan hingga mencapai persatuan dengan-Nya.
Berdasarkan pengalaman rohaniah yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah dalam menggapai al-hubb al-Ilahi, terdapat beberapa cara sebagai jembatan yang dapat menghantarkan seseorang menuju tingkat tersebut, yaitu[13]:
a.       Bangun di waktu malam
Rabi’ah telah menepati janjinya kepada Allah, ia selalu dalam keadaan beribadah kepada Allah sampai meninggal dunia. Bahkan ia selalu melaksanakan shalat tahajjud di malam hari. Dengan amal ibadahnya, wajah Rabi’ah al-adawaiyah berseri, dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah akan mendapatkan limpahan cahaya dari Ilahi. Pada hakikatnya cahaya wajah orang yang taat beribadah adalah cahaya Allah yang wujud padanya sehingga meliputi langit dan bumi serta segala isinya.
b.      Perawan selama hidup
Rabi’ah al-Adawiyah, telah memilih jalan hidup dengan cara zuhud dan beribadah kepada Allah. Selama hidup ia tidak pernah menikah, walaupun ia seorang wanita yang cantik dan menarik. Juga seorang yang cerdas dan luas ilmunya. Rabi’ah sadar kalau perkawinan adalah perintah agama. Pada suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rabi’ah, mengapa Anda tidak mau menikah ?. Rabi’ah menjawab; ada tiga keprihatinanku. Bila ada orang yang bisa menghilangkan keprihatinanku tersebut, maka aku akan menikah dengannya. Kemudian ia mengemukakan ketiga masalah tersebut; pertama, apa bila aku meninggal dunia, maka aku akan menghadap Tuhanku, apakah dalam keaadan beriman atau suci ?, kedua, apakah aku akan menerima kitab amalanku dengan tangan kanan ku ?. ketiga, bila datang hari kiamat, dan orang- orang dari kelompok kanan telah masuk surga dan kelompok kiri masuk neraka. Maka dalam kelompok manakah aku ?. orang itu menjawab : “aku tidak tahu apa- apa tentang pertanyaanmu itu, masalah itu hanya diketahui oleh Allah SWT. Rabi’ah berkata: jika demikian halnya maka aku akan tetap dalam keadaan cemas dan prihatin. Bagaimana aku akan mampu berumahtangga. Alasan Rabi,ah tersebut menggambarkan bahwa memang tidak ada niat baginya untuk membagi cinta kepada Allah dengan makhluk ciptaan-Nya.
c.       Meningkatkan kesucian jiwa
Rabi’ah al-Adawiyah berhasil mencapai kesucian jiwa dengan cara mengumpulkan ilmu pengetahuan. Penerapan sikap zuhud dalam kehidupan dunia telah menyebabkan kemurnian cintanya kepada Allah semakin subur. Bukti zuhudnya, dapat dilihat dari suatu riwayat yang menceritakan bahwa suatu hari pencuri masuk ke rumah Rabi’ah, tetapi pencuri itu tidak mendapatkan apa- apa di rumahnya kecuali sebuah kendi. Ketika pencuri itu mau keluar, Rabi’ah menegurnya: “jika engkau seorang yang cerdas, maka engkau jangan ke luar dengan tangan kosong”. Pencuri itu menjawab: “aku tidak menemukan apa-apa”. Rabiah berkata: “sayang sekali berwuduklah dengan air kendi ini, lalu masuklah ke kamar ini dan lakukanlah shalat dua rakaat, maka engkau akan keluar membawa sesuatu. Pencuri itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Rabi’ah al- Adawiyah. Ketika ia sedang shalat, rabiah menengadahkan kepalanya ke langit sambil berdoa: ya Allah, orang ini telah datang ke rumahku, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dirumahku, karena itu aku telah menahannya di depan pintumu. Oleh karena itu janganlah Engkau biarkan dia pergi dengan tangan hampa tanpa mendapatkan karunia dan pahala dari-Mu.
Terlepas dari benar atau salahnya riwayat tersebut, disana menggambarkan bahwa sangat sederhananya kehidupan Rabi’ah al-Adawiyah di atas dunia. Selanjutnya juga tergambar kesabaran yang sangat agung dari dirinya, walaupun datangnya seseorang ke rumahnya untuk membinasakan diri rabiah sendiri namun dibalasnya dengan doa dan rasa kasih saying kepada sang pencuri tersebut. Dari kebersihan hati dan jiwanya sangat tepatlah kalau yang menjadi tujuan hidupnya adalah keredhaan Allah semata.

C.     Zu Al-Nun Al-Misri (180-246H)
1.      Riwayat Hidup Zunnun Al-Misri
Nama lengkapnya adalah Abu al-Faid Sauban bin Ibrahim Zu al-Nun al-Misri. Dia lahir di Ekhnim yang terletak di kawasan Mesir Hulu pada tahun 155 H/770 M. Menurut biografi-biografi para sufi, dia adalah salah seorang yang pada masanya terkenal keluasan ilmunya, kerendahan hatinya, dan budipekertinya yang baik. Dalam tasawuf posisinya dipandang penting, karena dia itulah orang pertama di Mesir yang memperbincangkan masalah keadaan dan tingkatan para wali. ’Abdurrahman al-Jami’ dalam Nafhat al-Uns mendeskripsikannya sebagai tokoh aliran tasawuf[14].
Banyak guru-guru yang telah didatanginya dan banyak pengembaraan yang telah dilakukannya baik di negeri Arab maupun Syria. Pada tahun 214 H/829 M dia ditangkap denga tuduhan membuat bid’ah dan dikirim ke kota Baghdad untuk dipenjarakan di sana. Setelah diadili, khalifah memerintahkan agar ia dibebaskan dan dikembalikan ke Kairo. Di kota ini dia meninggal tahun 245 H/860 M. Kuburannya sampai kini masih terpelihara dengan baik.

2.      Konsep al-Ma’rifah Menurut Zunnun al-Misri
Ma’rifat, menurut al-Misri adalah pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Hanya terdapat pada para sufi yang sanggup melihat Tuhan dengan hati nurani mereka. Ma’rifat dimasukkan Tuhan ke dalam hati seorang sufi sehingga hatinya penuh dengan cahaya. Ketika ia ditanya bagaimana ia mencapai ma’rifat tentang Tuhan, ia menjawab:
“Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak akan tahu Tuhan”.
Ungkapan tersebut menunjukan bahwa ma’rifat tidak diperoleh begitu saja, tetapi melalui pemberian Tuhan. Ma’rifat bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya. Pemberian tersebut dicapai setelah seorang sufi lebih dahulu menunjukan kerajinan, kepatuhan dan ketaatan mengabdikan diri sebagai hamba Allah dalam beramal secara lahiriyah sebagai pengabdian yang dikerjakan tubuh untuk beribadat. Ma’rifat juga dimaksudkan dengan komunikasi cahaya dari Tuhan ke dalam hati nurani seseorang. Orang- orang yang sudah mencapai ma’rifat tidak lagi berada dalam diri mereka, tetapi mereka berada dalam dzat Tuhan. Mereka dapat melihat tanpa pengetahuan, tanpa mata, tanpa penerangan, tanpa tampa opservasi, tanpa penghalang dan hijab. Semua gerakan – gerakan merekan adalah di sebabkan oleh Allah. Kata-kata mereka adalah kata-kata Allah yang di ucapkan melalui lidah mereka . Dan penglihatan mereka adalah penglihan Tuhan yang telah masuk kedalam mata mereka dengan demikian, taraf tertinggi yang dapat dicapai oleh sufi sesudah masanya Dzu al-Nun al-Mishri ini adalah memperoleh pengetahuan super intelektual yang terkenal dengan istilah al-ma’rifat[15].
Dalam tasawuf, Zu al-Nun al-Misri dipandang sebagai bapak paham ma’rifah. Walaupun istilah ma’rifah sudah dikenal sebelum Zu al-Nun al-Misri, namun pengertian ma’rifah versi khas tasawuf barulah dikenal dengan munculnya Zu al-Nun. Disamping itu, jasa yang paling besar dari padanya ialah ajarannya yang menetapkan keharusan melewati maqamat dan ahwal dalam perjalanan menuju ma’rifah. Dengan kata lain, sejak munculnya Zu al-Nun al-Misri berkembanglah pengertian ma’rifah yang khas dalam dunia sufi dan mulailah tersusun amalan-amalan tertentu dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah, yang dikenal dengan istilah maqamat dan ahwal.
Zu al-Nun al-Misri mengklasifikasikan ma’rifah ke dalam tiga macam, yaitu: (1) ma’rifah orang awam, (2) ma’rifah para teolog dan filosof, dan (3) ma’rifah para awliya’ dan muqarrabin serta mereka yang mengetahui Allah melalui hati nuraninya.[16]
Dalam pembagian ini terbayanglah kejelasan ketiga macam ma’rifah itu. Orang mu’min biasa mengenal Allah karena memang demikian ajaran yag diterimanya. Orang filosof dan mutakallimin mencari Allah dengan perjalanan akalnya, tetapi belum tentu dirasainya akan lezatnya. Tetapi orang-orang Muqarrabin mencari Allah dengan pedoman cinta. Yang lebih diutamakan ialah ilham, atau faraidh, yaitu limpah kurnia Allah. Atau kasyaf, yaitu dibuka allah hijab kebatinan dalam alam kerohanian. Di waktu itu akal tak berjalan lagi, melainkan tiba di derajat yang mustawa.[17] Menurut beliau, ma’rifah macam ketiga inilah yang tertinggi dan meyakinkan, karena ia diperoleh bukan melalui belajar, usaha dan pembuktian, tetapi ia adalah ilham yang dilimpahkan Allah ke dalam hati yang paling rahasia pada hambanya. Sehingga ia mengenal Tuhannya melalui Tuhannya. Ini berarti, bahwa menurutnya, ma’rifah itu bukan maqam, tetapi hal, yaitu suatu sikap mental yang diperoleh semata-mata karena karunia Ilahi. Lebih tegas lagi dapat dilihat dalam salah satu ungkapannya: ”Aku mengenal Tuhanku melalui Tuhanku dan sekiranya bukan karena Tuhanku, aku tidak akan mengenal Tuhanku.”
Itulah tauhid yang semurni-murninya.
Selanjutnya, Zu al-Nun al-Misri cenderung mengkaitkan ma’rifah dengan syari’ah, sebagaiman katanya: ”Tanda seorang ’arif itu ada tiga: cahaya ma’rifahnya tidak memudarkan cahaya sifat wara ’nya, secara batiniah tidak memegangi ilmu yag menyangkal hukum lahiriah, dan banyaknya karunia Allah tidak menjadikannya melanggar tirai-tirai larangan-Nya.” Bahkan lebih jauh lagi, menurutnya, seorang ’arif akan semakin khusyu’ setiap kali pengenalannya terhadap Allah semakin meningkat, sebagaimana katanya: ”Seorang ’arif setiap harinya tentu semakin khusyu’, sebab setiap saat dia semakin dekat dengan-Nya[18].
Orang-orang sufi itu memang memiliki ciri-ciri tertentu. Mereka ingin mencapai beberapa derajat lebih tinggi dari orang-orang yang dianggap mereka orang biasa. Untuk itu mereka pergunakan segala cara (turuq bentuk jamak dari tariq) untuk mencapai tujuan (gayah). Karena itulah Abd. Al-Halim Mahmud mengambil kesimpulan bahwa tasawuf itu adalah turuq dan gayah. Turuq adalah syari’ah dan maqamat yang harus dilalui dan dimenangkan, sedang gayah adalah ma’rifah. Di dalam ucapan-ucapan Zu al-Nun pun dijumpai bahwa orang-orang sufi itu adalah orang-orang khusus yang berkeinginan sangat kuat untuk mencapai gayah, seperti terungkap dalam ucapannya: ”Tobatnya orang awam dari dosa, sedang tobatnya orang khawas dari lupa.” Ketika ditanya tentang hakikat zikr, dia menjawab: ”Siapapun yang mengingat Allah dengan ingat menurut hakikat sebenarnya akan melupakan segala sesuatu karena begitu sempurnanya ingatannya kepada Allah dan allah pun memeliharanya dari segala sesuatu, serta Allah akan menjadi pengganti dari sgala apapun.” Dia pun pernah pula berkata: ”Siapapun yang mengingat Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, melupakan segala yang lain selain Dia, seperti yang disaksikan oleh mereka yang menerima ilham (kasyf). Aku mengalami hal ini sejak shalat Maghrib sampai sepertiga malam dan aku mendengar suara-suara makhluk yang memuji Tuhan, dengan suara meninggi sehingga aku takut pada pikiranku sendiri. Kudengar ikan berkata: Terpujilah Sang Raja, Yang Maha Suci, Sang Penguasa”[19].
Dari uraian-uraian yang berkaitan dengan ma’rifat tersebut, terlihat bahwa pemikiran-pemikiran yang dikandingnya tidak lagi sederhana ungkapan-ungkapan para sufi Muslim abad-abad pertama dan kedua Hijriyah. Pemikiran-pemikiran tersebut kini mencerminkan kecenderungan tasawuf ke arah suatu metoda yang lebih teliti dan mendalam. Dalam klasifikasi Zunnun al-Misri terkandung tiga metode ma’rifat yang berlainan, pertama; metode transmisi, yang dengan metode ini kaum awam memahami tauhid. Kedua; metode akal budi, yaitu dengan metode pembuktian. Yang menjadi landasan bagi ilmuwan, filosof, atau orang-orang semacamnya. Ketiga; metode ketersingkapan langsung, yang menjadi metode bagi para wali dan sufi[20].
Tentang perbedaan ma’rifat sufi dengan ma’rifat lainnya tersebut bisa diperoleh juga pada para sufi setelah Zunnun al-Misri. Ringkasnya, perbedaan tersebut menjadi lebuih rinci dan gamblang lagi ditangan para sufi yang mutakhir, seperti al-Ghazali dan Ibn ’Arabi.

D.    Kesimpulan
1.      Rabi’ah Al-’Adawiyah
Ummu al-Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah, yang biasa dikenal dengan Rabi’ah Al-’Adawiyah. Seumur hidupnya tidak pernah menikah, dipandang mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta al-hubb khas sufi ke dalam mistisisme dalam Islam. Sebagai seorang wanita zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa pria shaleh.
Menurutnya, al-hubb al-ilahi merupakan cetusan dari perasaan jiwa yang rindu dan pasrah terhadap Allah. Seluruh ingatan dan perasaan tertuju kepada-Nya.
Isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdi, melakukan amal shaleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi karena cintanya kepada Allah. Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah dan cinta itu pulalah yang membuat ia sedih dan menangis karena takut terpisah dari yang dicintainya. Allah Baginya merupakan zat yang dicintai, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Untuk mencapai al-hubb al-ilahi, ada beberapa cara yang dapat menghantarkan seseorang ketingkat tersebut: 1. Bangun diwaktu malam., 2. Perawan selama hidup., 3. Meningkatkan kesucian jiwa.
2.      Zunnun Al-Misri
Abu al- Faidl Tsauban bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Misri al-Akhmini Qibthy, lebih dikenal dengan Zunnun Al-Misri. Ma’rifat, menurut beliau adalah pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Hanya terdapat pada para sufi yang sanggup melihat Tuhan dengan hati nurani mereka. Ma’rifat dimasukan Tuhan ke dalam hati seorang sufi sehingga hatinya penuh dengan cahaya.Ketika ia ditanya bagaimana ia mencapai ma’rifat tentang Tuhan, ia menjawab:
“Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak akan tahu Tuhan”


[1] Asmaran. 1994  Pengantar Studi Tasauf.  (Raja Grafindo Persada: Jakarta). h. 274
[2] http://ifud17.wordpress.com/2008/07/24/biografi-rabiah-al-adawiyah/
[3] Loc. Cit
[4] Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. 1985. Sufi Dari Zaman ke Zaman. (Penerbit Pustaka: Bandung). h. 83
[5] Asmaran. Op. Cit. h. 274
[6] Sumber: http://pemikirandalamislam.blogspot.com//
[7] Asmaran. Op. Cit. h. 276 Lihat juga Harun Nasution. 1973. Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam. (Bulan Bintang: Jakarta). h. 72
[8] Hamka. 1993. Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya. (Pustaka Panjimas: Jakarta).  h.73
[10] Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. Op. Cit. h. 87
[11] Asmaran. Op. Cit. h. 278
[12] Asmaran. Op.Cit.  h.279
[14] Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. Op. Cit. h. 97
[15] http://ifud17.wordpress.com/2008/08/02/dzunnun-al-misri/
[16] Asmaran,Op,Cit h.287-289
[17] Hamka,Op.Ci t h.93
[18] Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. Op. Cit. h. 97
[19] Asmaran. Op. Cit. h. 294-295
[20] Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. Op. Cit. h. 98-99

Fawatih As-Suwar

FAWATIHUSSUHAR
Oleh: Abdul Hafizh, SHI 

A.     Pendahuluan
Studi atas Al-Quran telah banyak dilakukan oleh para ulama dan sarjana tempo dulu, termasuk para sahabat di zaman Rasulullah saw. Hal itu tidak lepas dari disiplin dan keahlian yang dimiliki oleh mereka masing-masing. Ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan eksplorasi lewat perspektif keimanan dan historis, bahasa dan sastra, pengkodifikasian, kemu’jizatanm penafsiran serta tela’ah kepada huruf-hurufnya.
Kondisi semacam itu bukan hanya merupakan artikulasi tanggung jawab seorang Muslim untuk memahami bahasa-bahasa agamanya. Tetapi sudah berkembang kepada nuansa lain yang menitikberatkan kepada studi yang bersifat ilmiah yang memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran dalam dunia Islam. Kalangan sarjana Barat banyak yang melibatkan diri dalam pengkajian Al-Quran, dengan motivasi dan latar belakang kultural maupun intelektual yang berbeda-beda.
Al-Quran sebagaimana yang kita ketahui terdiri dari 114 surat, yang di awali dengan beberapa macam pembukaan (fawatih al-suwar). Diantara macam-macam pembuka surat yang tetap aktual pembahasannya hingga sekarang ini huruf muqatha’ah. Menurut Watt, huruf-huruf yang terdiri dari huruf-huruf alphabet (hijaiyah) ini, selain mandiri juga mengandung banyak misterius, karena sampai saat ini belum ada pendapat yang dapat menjelaskan masalah itu secara memuaskan.
B.     Pembahasan
1.      Pengertian Fawatih al-Suwar
Dari segi bahasa, fawatihussuwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.
Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. ketiga, dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surat. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam 23 surat. kelima, dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam); terdapat dalam 15 surat.[1]

2.      Macam-macam fawatih al-suwar
Beberapa ulama telah melakukan penelitian tentang pembukaan surat Alquran, diantaranya sebagai yang dilakukan al-Qasthalani. Ia mengiventarisir Fawatih al-Suwar menjadi sepuluh macam. Sementara Ibn Abi al-Isba dalam kitabnya al-Khaqatir al-Sawanih fi Asrar Fawatih, hanya menyebutkan lima saja.
a.        Pembukan dengan pujian kepada Allah (al-istiftah bi al-tsana).
Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu:
1)      Menetapkan sifat-sifat terpuji kepada Allah (al-itsbat shifat al-madhiy) dengan menggunakan salah satu lafal berikut:
a)      Memakai lafal hamdalah, yakni dibuka dengan (الحمد لله), yang terdapat dalam 5 surat.
b)      Memakai lafal (تبارك), yang terdapat dalam 2 surat.
2)      Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih ‘an sifat naqshim) dengan menggunakan lafal tasbih, (يسبح\سبح\سبح\سبحن) sebagai yang terdapat dalam 7 surat.
Berdasarkan uraian di atas, ternyata masing-masing surat tersebut menetapkan sifat-sifat yang negatif. Surat-sufat yang diawali dengan pujian ini memiliki tasbih itu merupakan monopoli Allah. Dalam hal ini, tasbih dimulai dengan mashdar dan selanjutnya diikuti dengan fi’il. Ini semua dimaksudkan agar mencakup seluruh tasbih, sekaligus menunjukkan betapa ajaibnya Al-Quran itu.

b.      Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Istiftah bi al-huruf al-muqatha’ah).
Pembukan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang, yakni (ا\ي\هـ\ن\م\ل\ك\ق\ع\ك\ص\س\ر\ح)
Penggunan huruf-huruf tersebut dalam pembukaan surat-surat Alquran disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari kelompok berikut:
1)      Kelompok sederhana, terdiri dari satu huruf, terdapat dalam 3 surat, yakni (ص) (QS. Shad); (ق) (QS. Qaf); dan (ن) (QS. Nun).
2)      Kelompok yang terdiri dari dua huruf, tedapat dalam 3 surat, yakni (حم) (QS. Al-Mu’min; QS. Al-Sajdah; QS. Al-Zukhruf, QS. Al-Dukhan; QS. Al-Jatsiyah; dan QS.Al-Ahkaf; (طه) (QS. Thaha); (طس) (QS. Al-Naml); dan (يس) (QS. Yasin).
3)      Kelompok yang terdiri dari tiga huruf, yakni (الم) QS. Al-Bqarah, QS. Ali Imran, QS. Al-Ankabut, QS. Al-Rum, QS. Luqman dan QS. Al-Sajdah); (الر) (QS. Yunus, QS. Hud, QS. Ibrahim, QS. Yusuf, dan QS. Al-Hijr, dan (طسم) (QS. Al-Qashash dan QS. Al-Syu’ara).
4)      Kelompok yang terdiri dari empat huruf, yakni (الر) (QS. Al-Ra’ad) dan (المص) (QS. Al-A’raf). Kelompok yang terdiri dari lima huruf, yakni rangkaian ((كهيعص (QS. Maryam) dan (حم عسق) (QS. Al-Syuara).

c.       Pembukaan dengan panggilan (al-istiftah bi al-nida).
Nida ini ada tiga macam, yaitu nida’ untuk nabi, nida untuk kaum mukminin dan nida untuk umat manusia.

d.      Pembukaan dengan kalimat (jumlah) khabariah (al-istiftah bi al-jumal al-khabariayyah).
Jumlah khabariyyah di dalam pembukaan surat ada dua macam, yaitu:
1)      Jumlah ismiyyah
Jumlah ismiyyah yang menjadi pembuka surat terdapat 11 surat, yaitu: (a) (براءة من الله ورسوله) (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan rasul-Nya (QS. Al-Taubah). (b) (سورة انزلناها وفرضناها) (ini adalah) satu surat yang Kami nuzulkan dan kami wajibkan (QS. Al-Nur); (c) (تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم) /Kitab Alquran ini dinuzulkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Zumar); (d) (الذين كفروا زصلوا عن سبيل الله) (orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia), dari jalan Allah), (QS. Muhammad); (e) (ان فتحنالك فتحا مبينا) / Sunngguh kami telah, memberikan keapdamu kemenangan yang nyata (QS. Al-Fath); (f) (الرحمان علم القران) /Alah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan, (QS. Al-Rahman); (g) (الحاقة ماالحاقة) / Kiamat, apakah hari kiamat itu? (QS. Al-Haqqa); (h) (ان ارسلنانوحا الي قوم) /Sungguh telah mengutus Nuh kepada kaumnya (QS. Nuh) ; (i) (انا انزلنه في ليلة القدر) /Sungguh telah menurunkannya (Alquran) pada malam al-Qadr (QS. Al-Qadr); QS. Al-Qadr; (j) (القارعة ما القارعة) /Hari Kiamat, apakah Hari kiamat itu?(QS. Al-Qari’ah); (k) (انا اعطيناك الكوثر) /Sungguh kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (QS. Al-Kawtsar).
2)      Jumlah fi’liyah
Jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat-surat Alquran terdapat dalam 12 surat, yaitu (a) (يسئلونك عن الانفال) /Mereka bertanya kepadamu tentang pendistribusian harta rampasan perang (QS. Al-Anfal); (b) (اتي امرالله فلا تستعجلوه) /Telah pasti datangnya ketetapan Allah itu, maka janganlah minta disegerakan (QS. Al-Nahl), (c). (اقترب للناس حسابهم) /Telah dekat datangnya saat itu (QS. Al-Qamar); (d) (قدافلحل المئمنون) /Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (QS. Al-Mukminun; (e) (اقتربت الساعة) /telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalam mereka (QS. Al-Anbiya); (f) (قدسمع الله قول التي تجادلك) /Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpanya (QS. Al-Ma’arij); (g) (لاقسم بيوم القيامة) /Aku bersumpah dengan hari kiamat (QS. Al-Qiyamah); (h) (لااقسم بهذا البلاد) /Aku bersumpah dengan kota ini, Makkah (QS. Balad); (i) (عبس وتولي) /Dia (Muhammad) bermuka Masam dan berpaling (QS. ‘Abasa) (j) (لم يكن الذين كفروا من اهل الكتاب) /Dia Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan agamanya (QS. Al-Bayyinah); (k) (الهاكمتكاثر) /Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (QS. Al-Takatsur).

Adapun hikmah dan rahasia adanya pembukaan surat-surat dengan nida’ yaitu untuk memberi perhatian dan peringatan, baik bagi Nabi, umatnya, maupun untuk menjadi pedoman kehidupan ini.

e.       Pembukaan dengan sumpa (al-istiftah bi al-qasam).
Sumpah yang digunakan dalam pembukaan surat Al-quran ada tiga macam dan terdapat dalam 15 surat.
1)      Sumpah dengan benda-benda angkasa, misalnya (والصفات) (Demi rombongan yang bersaf-saf) dalam QS. Al-Shaffat; (والنجم) (Demi bintang) dalam surat al-Najm; (زالمرسلات) (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa) dalam QS. Al-Nai’at; (والسماء ذات البروج) (Demi lagit yang memiliki gugusan bintang) dalam QS. Al-Buruj; (والسماء و الطارق) (Demi langit dan yang datang pada malam harinya) dalam QS al-Thariq; (والفجروليال عشر) (Demi fajar dan malam yang sepuluh) dalam QS. Al-Fajr; dan (والشمس والضحها) (Demi matahari dan cahanyanya di waktu duha) dalam QS. Al-Syams.
2)      Sumpah dengan benda-benda bawah, misalnya (والذاريات ذروا) (Demi angin yang menerbangkan debu dengan sekuat-keuatnya) dalam QS. Al-Dzariyyat; (والطور) (Demi bukit Thur) dalam QS. Al-Thur; (والتين) (Demi buah Tin) dalam QS. Al-Thin; (والعاديت) (Demi kuda perang yang berlari kencang) dalam QS. Al-‘Adiyat.
3)      Sumpah dengan waktu, misalnya (واليل) (Demi malam) dalam QS. Al-Layl; (والضحي) (Demi waktu duha) dalam QS. Al-Dhuha; (والعصر) (Demi waktu) dalam QS. Al-Ashr.

Hikmah dari fawatih al suwar dengan sumpah ini, pertama, agar manusia meneladani sikap bertanggung jawab; berbicara harus benar dan jujur dan berani berbicara untuk menegakkan keadilan; kedua, agar dalam bersumpah manusia harus senantiasa memakai nama-nama Allah bukan selain-Nya; ketiga, digunakannya beberapa benda sebagai sumpah Allah dimaksudkan agar benda-benda itu diperhatikan manusia dalam rangka mendekatkan diri keapda Allah, karena pada dasarnya, benda-benda itu ciptaan Allah.
f.        Pembukaan dengan syarat (al-istiftah bi al-syarth).
Syarat yang digunakan dalam pembukaan surat Al-Quran ada dua macam dan digunakan dalam 7 surat, yakni: (1) (اذالشمس كورت) / Apabila matahari digulung dalam QS. Al-Takwir; (2) (اذالشماء انفطرت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Infithar; (3) (اذالشماء انشقت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Insyiqaq, (4) (اذا واقعت الواقعة) /Apabila terjadi hari kiamat , dalam QS. Al-Waqi’ah; (5) (اذاجاءك المنافقون) /Apabila orang-orang munafik datang kepedamu, dalam QS. Al-Munafiqun; (6) (اذا زلزلت الارض زلزالها) /Apabila bumi dogoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dalam QS. Al-Zaljalah; (7) (اذاجاءنصرالله والفتح) /Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dalam QS. Al-Nashr.

g.       Pembukaan dengan kata kerja perintah (al-istiftah bi al-amr)
1)      Dengan (اقرأ) bacalah, yang hanya terdapat dalam QS. Al-Alaq.
2)      Dengan (قل) katakanlah, yang terdapat dalam QS al-Jin, QS. Al-Kafirun, QS. Al-Falaq dan QS. Al-Nas.

h.       Pembukaan dengan pertanyaan (al-istiftah bi al-istifham)
Bentuk pertanyaan ini ada dua macam yaitu:
1)      Pertanyaan, positif yang pertanyaan dengan menggunakan kalimat positif. Pertanyaan ini digunakan dalam 4 pendahuluan surat Alquran, yaitu: (هل اتي علي الانسان حين من الدهر) Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa dalam QS. Al-Dahr, (عم يتساءلون . عن البإالعجيم) Tentang apakah mereka saling bertanya tentang berita yang besar, dalam QS al-Naba, (هل اتاك حديث الغاشية) Sudah datangkah kepadamu berita tentang hari pembalasan? Dalam QS. Al-Ghasyiyah, (ارايت الذي يكذب بالدين) Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama? Dalam QS. Al-Ma’un.
2)      Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat; negatif, yang hanya terdapat dalam dua surat, yakni (الم نشرح لك صدرك) Bukankah kami telah melapangkan dadamu untukmu, dalam QS. Al-Insyirah dan (الم تركيف فعل ربك بأصحب الفيل) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah dalam QS. Al-Fil.

i.         Pembukaan dengan doa (al-istiftah bi al-du’a)
Pembukan dengan doa ini terdapat dalam tiga surat. Yaitu: (ويل للمطففين) Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang, dalam QS. Al-Muthaffifin, (ويل لكل همزةلمزة) Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela dalam QS. Al-Humazah, (تبتيدا ابي لهب وتب) Binasalah tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa dalam QS. Al-lahab.

j.        Pembukaan dengan alasan (al-istiftah bi al-ta’lil)
Pembukan dengan alasan ini hanya terdapat dalam QS. Al-Quraisy (لإيلف قريش) Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.[2].

3.      Kedudukan Pembuka Surat Al-Quran
Menurut As-Suyuti, pembukaan-pembukaan surat (awail Al-suwar) atau huruf-huruf potongan (Al-huruf Al-Muqatta’ah) ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan menafsirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulama pada pokoknya terbagi dua. Pertama, pertama ulama yang memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. As-Suyuti memandang pendapat ini sebagai pendapat yang mukhtar (terpilih). Ibnu Al-Munzir meriwayatkan bahwa ketika Al-Syabi ditanya tentang pembukaan-pembukaan surat ini berkata;

ان لكل كتاب صفوة وصفوة هذا الكتاب حرزف التهجي

Artinya:

“Sesungguhnya bagi setiap kitab ada sari patinya, dan sari pati Kitab (Al-Quran) ini adalah huruf-huruf ejaannya”.

Abu Bakar juga diriwayatkan pernah berkata:

في كل كتاب سر وسره في القران اوائل السور

Artinya:

“Pada setiap kitab ada rahasia, dan rahasianya dalam Al-Quran adalah permulaan-permulaan suratnya”.

Kedua, pendapat yang memandang huruf-huruf di awal surat-surat ini sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian yang dapat dipahami oleh manusia. Karena itu penganut pendapat ini memberikan pengertian dan penafsiran kepada huruf-huruf tersebut.

Dengan keterangan di atas, jelas bahwa pembukaan-pembukaan surat ada 29 macam yang terdiri dari tiga belas bentuk. Huruf yang paliang banyak terdapat dalam pembukaan-pembukaan ini adalah huruf Alif (ا) dan lam (ل), kemudian Mim (م), dan seterusnya secara berurutan huruf Ha (ح), Ra (ر), Sin (س) Ta (ط), Sad (ص), Ha (ه), dan Ya’ (ي), ‘Ain (ع) dan Qaf (ق), dan akhirnya Kaf (ك), dan Nun (ن).

Seluruh huruf yang terdapat dalam pembukaan-pembukaan surat ini dengan tanpa berulang berjumlah 14 huruf atau separuh dari jumlah keseluruhan huruf ejaan. Karena itu, para mufassir berkata bahwa pembukaan-pembukaan ini disebutkan untuk menunjukkan kepada bangsa Arab akan kelemahan mereka. Meskipun Al-Quran tersusun dari huruf-huruf ejaan yang mereka kenal, sebagiannya datang dalam AlQuran dalam bentuk satu huruf saja dan lainnya dalam bentuk yang tersusun dari beberapa huruf, namun mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat menandinginya. Pendapat ini telah dijelaskan secara panjang lebar oleh Al-Zamakhsari (wafat 538 H) dan Al-Baidhawi (wafat 728 H). pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Taimiyah (wafat 728 H) dan muridnya, Al-Mizzi (wafat 742 H). Mereka menguraikan tantangan Al-Quran di turunkan dalam bahasa Mereka sendiri. Akan tetapi, mereka tidak mampu membuat kitab yang menyerupainya. Hal ini menunjukkan kelemahan mereka di hadapan Al-Quran dan membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya.

Berikut ini dikemukakan beberapa riwayat dan pendala ulama:
“Dari Ibn Abbas tentang firman Allah: (الم), berkata Ibn Abbas:” Aku Allah lebih mengetahui”, tentang (المص) berkata Ibn Abbas:” Aku Allah akan memperinci”, dan tentang (الر) berkata Ibn Abbas: “Aku Allah melihat”. (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Abu Al-Duha).
“Dari Ibn Abbas, berkata ia: “alif lam ra, ha’mim, dan nun adalah huruf-huruf al-Rahman yang dipisahkan (dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Ikrimah)”.
“Dari Ibn Abbas tentang Kaf, Ha’, Ya’ Ain, Sad, berkata ia: “Kaf dari Karim (pemurah). Ha dari Hadin (pemberi petunjuk), Ya, dari Hakim (bijaksana), ‘Ain dari ‘Alim (Maha Mengetahui), dan Sad dari Sadiq (yang benar). (Dikeluarkan oleh Al-Hakim dan lainnya dari jalan Sa’id Ibn Jubair)
“Dari Salim Abd Ibn Abdillah berkata ia: (حم، الم) dan (ن) dan seumpamanya adalah nama Allah yang dipotong-potong”, (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
Dari Al-Saddiy, ia berkata: “Pembukaan-pembukaan surat adalah nama dari nama-nama Tuhan Jalla Jalaluh yang dipisah-pisah dalam Al-Quran”. (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
“Dari Ibn Abbas, berkata ia: (ص، طسم، الم) dan yang seumpamanya adalah sumpah yang Allah bersumpah dengannya, dan merupakan nama-nama Allah juga”.

(Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan lainya dari jalan Ali Ibn Abi Talhah).

Ada pendapat mengatakan bahwa huruf-huruf itu adalah nama-nama bagi Al-Quran, seperti Al-Furqan dan Al-Zikir. Pendapat lain mengatakan bahwa huruf-huruf tersebut adalah pembuka bagi surat-surat Al-Quran sebagaimana hanya qasidah sering diawali dengan kata (بل) dan (لا).

Dikatakan juga huruf-huruf ini merupakan peringatan-peringatan (tanbihat) sebagaimana halnya dalam panggilan (nida). Akan tetapi, di sini tidak digunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti (ألا) dan (أما) karena kata-kata ini termasuk lafal yang sudah biasa dipakai dalam percakapan. Sedangkan al-Quran adalah kalam yang tidak sama dengan kalam yang biasa sehingga digunakan alif (ا).

Sebagai peringatan (tanbih) lebih terkesan kepada pendengar. Yang belum pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan kepada pendengar.

Dalam hubungan ini sebagian ulam memandangnya peringatan (tanbih) kepada rasul agar dalam waktu-waktu kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengarkan ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya. Sebagian yang lain memandangnya sebagai peringatan (tanbih) kepada orang-orang Arab agar mereka tertarik mendengarkannya dan hati mereka menjadi lunak kepadanya. Tampaknya, pandangan yang pertama kurang tepat karena Rasul sebagai utusan Allah dan yang terus-menerus merindukan wahyu tidak perlu diberi peringatan. Sedangkan pandangan yang kedua adalah lebih kuat karena orang-orang Arab yang selalu bertingkah, keras hati dan enggan mendengarkan ketenaran perlu diberi peringatan (tanbih) agar perhatian mereka tertuju kepada ayat-ayat yang disampaikan.

Di katakana juga bahwa Thaha (طه) dan Yasin (يس) berarti hai laki-laki atau hai Muhammad atau hai manusia. Pendapat lain memandang kedua Thaha (طه) dan Yasin (يس) sebagai nama bagi Nabi Saw.[3]


C. Pendapat Para Ulama Tentang Huruf Hijaiyah Pembuka Surat

Para ulama yang membicarakan masalah ini ada yang berani menafsirkannya, di mana huruf-huruf itu merupaka rahasia yang hanya Allah sendiri yang mengetahui-Nya.
Az-Zamarksyari berkata dalam tafsirnya “Al-Qasysyaf” huruf-huruf ini ada beberapa pendapat yaitu:
Merupakan nama surat
Sumpah Allah
Supaya menarik perhatian orang yang mendengarkannya.
As-Sayuti menukilkan pendapat Ibnu Abbas tentang huruf tersebut sebagai berikut:

(الم) berarti (انا الله اعلم), (المص) berarti (انا الله اعلم و افصل), (الر) berarti (انا الله اري), (كهيعص) diambil dari (كريم هاد حكيم عليم - صادق) juga berarti (كان هاد تمين عالم - صادق) Adh Dhahak berpendapat bahwa (الر) ialah: اناالله اعلم وارفع

dikatakan pendapat hanyalah dugaan belaka. Kemudian As-Suyuti menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
al-Quwaibi mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan tanbih bagi Nabi, mungkin pada suatu saat Nabi dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
As-Sayid Rasyid Ridha tidak membenarkan Al-Quwaibi di atas, karena Nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu.

Rasyid Ridha berpendapat sesuai dengan Ar-Razi, bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang Musyrik Mekkah dan Ahli Kitab Madinah. Karena orang-orang kafir apabila Nabi membacakan Al-Quran mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya.

Disebut dalam surat Fusilat ayat 26:

tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿw (#qãèyJó¡n@ #x‹»olÎ; Èb#uäöà)ø9$# (#öqtóø9$#ur ÏmŠÏù ÷/ä3ª=yès9 tbqç7Î=øós? ÇËÏÈ

Artinya:

“Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (QS. Fusyilat: 26)


Ulama salaf berpendapat bahwa “Fawatih Suwar” telah disusun semenjak zaman azali sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkannya seperti Al-Quran.

Oleh karena i'tiqad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya, maka banyaklah orang yang tidak berani mentafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu. Huruf-huruf itu dipandang masuk golongan mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang mengetahui tafsirnya.

Huruf-huruf itu, sebagai yang pernah ditegaskan oleh Asy-Syabi, ialah rahasia dari pada Al-Quran ini.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

“Sesungguhnya bagi tiap-tiap Kitab ada saripatinya. Saripati Al-Quran ini ialah, huruf-huruf Hijaiyah”.

Abu baker As-Shiddieqi pernah berkata:

“Di tiap-tiap kitab ada rahasianya. Rahasianya dalam Al-Quran ialah permulaan-permulaan surat”.

Dalam hal ini Prof. Hasbi As-Shiddieqi menegaskan bahwa dibolehkannya mentakwilkan huruf-huruf tersebut asal tidak menyalahi penetapan Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam pada itu yang lebih baik kita serahkan saja kepada Allah.[4]


D. Khawatimuha Al-Suwar
Pengertian Khawatim al-Suwar

Khawatim merupakan bentuk jamak dari kata khatim , yang berarti penutup atau penghabisan. Secara bahasa, fawatih al-suwar berarti penutup surat-surat Al-Quran. Menurut istilah. Fawatih al-suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surat-surat Alquran yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya.

Pembahasan Khawatim al-suwar ini telah dibahas oleh sebagian ulama, misalnya al-Suyuthiy maupun al-Zarkasyi. Namun, pembahasan kedua ulama ini masih sangat singkat. Dikatakan ringkas, sebagai dikatakan al-Zarkasyi, karena fawatih, itu baru dibahas 14 surat. Bahkan di akhir pembicaraannya, ia menyebutkan ia baru mengamati penutupan dari surat-surat Al-Quran dan sisanya akan diteliti orang lain.
Macam-macam kwatim al-suwar.

Menurut sementara penelitian terhadap penutup surat-surat Al-quran, sedikitnya fawatih al-suwar ada 18 macam.

a. Penutup dengan mengagungkan Allah (al-ta’zim), seperti (وهو علي كل شيء قدير), (Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), terdapat dalam QS: al-Maidah ayat 120; (ان الله بكل شيء عليم), (Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu) terdapat dalam QS. al.An’am ayat 75 dan surat-surat lainnya.

b. Penutupan dengan anjuran ibadah dan tasbih, seperti:

¨bÎ) tûïÏ%©!$# y‰ZÏã šÎn/u‘ Ÿw tbrçŽÉ9õ3tGó¡o„ ô`tã ¾ÏmÏ?yŠ$t7Ïã ¼çmtRqßsÎm6|¡ç„ur ¼ã&s!ur šcr߉àfó¡o„ ) ÇËÉÏÈ

(Sesunnguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka bertasbih memuji-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud) terdapat dalam QS. al-A’raf ayat 206; (فاعبده وهو كل عليه وماربك بغافل عماتعملون), (Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Sekali-sekali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan) terdapat dalam QS. Hud ayat 123, dan lain-lain.

c. Penutupan dengan tujuan (al-tamhid), seperti (وقل الحمدلله الذي لم يتخذولدا), (Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak memiliki putra…) terdapat dalam QS. al-Isra ayat 111: (وقل الحمدلله سيركم اياته فتعرفونها وماربك بغافل عما تعملون) (Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kalian akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tidak lupa terhadap apa yang kalian lakukan) terdapat dalam QS. al-Naml ayat 93 dan contoh-contoh lainnya.

d. Penutupan dengan doa, seperti (وقل ؤباغفرورحموانت خير الراحمين) (Dan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampunan dan berilah rahmat, dan Engkau pemberi rahmat yang paling baik) terdapat dalam QS. al-Mu’minun ayat 118, dan contoh-contoh lainnya.

e. Penutupan dengan wasiat, seperti (فاصبر ان وعد الله حق ولايستخفنك) (Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah benar, sekali-kali janganlah orang-orang yang meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu) terdapat dalam QS. al-Rum ayat 60, (فأرتقب انهم مرتقبون) (Maka tunggulah, sesungguhnya mereka itu menunggu pula) terdapat dalam QS. al-Dukhan ayat 59, dan contoh-contoh lainnya.

f. Penutupan dengan perintah dan masalah takwa, seperti (وانقواالله لعلكم تفلحون) (Dan bertakwalah kepada Allah, agar kalian beruntung) terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 200 dan contoh-contoh lainnya.

g. Penutupan dengan masalah kewarisan, seperti terdapat dalam QS al-nisa. Ayat 176.

ybÎ)ur (#þqçR%x. Zouq÷zÎ) Zw%y`Íh‘ [ä!$|¡ÎSur Ìx.©%#Î=sù ã@÷WÏB Åeáym Èû÷üu‹s[RW{$# 3 ßûÎiüt6ムª!$# öNà6s9 br& (#q=ÅÒs? 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« 7OŠÎ=tæ ÇÊÐÏÈ

“Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) Saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

h. Penutupan dengan janji dan ancaman (al-wa’d wa al wa’id), seperti (وانه لغفور رحيم) (Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) terdapat dalam QS. al-Muzzammil ayat (عليهم نار مؤصدة) (Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat) terdapat dalam QS. al-Humazah ayat 20, dan contoh-contoh lainnya.

i. Penutupan dengan hiburan bagi Nabi, seperti (انشانئك هو الأبتر) (Sungguh orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus) terdapatlah dalam QS. al-Kafirun ayat 6. (لكم دينكم ولي دين) (Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku), dan contoh-contoh lainnya.

j. Penutupan dengan sifat-sifat Alquran, seperti dalam QS. Yusuf ayat 111, QS. Shad ayat 87-88, dan QS. al-Qalam ayat 52

k. Penutupan dengan bantahan (al-jadl), seperti terdapat dalam QS. Al-Ra’d ayat 43.

l. Penutupan dengan ketauhidan, seperti terdapat dalam QS. Al-Tawbah ayat 129, QS. Ibrahim ayat 52, QS. Al-Qahf ayat 110, QS. Al-Qashash ayat 88, QS. Al-Layl ayat 19-21, QS. Al-Insyirah ayat 7-8, QS. Ak-Ikhlash ayat 3-4.

m. Penutupan dengan kisah, seprti terdapat dalam QS. Maryam ayat 98, al Tahrim ayat 12, QS. ‘Abasa ayat 42, dan QS. Al-FIl ayat 5.

n. Pentuupan dengan anjuran jihad, seperti terdapat dalam QS. Al-Hajj ayat 78.

o. Penutupan dengan perincian maksud, seperti terdapat dalam QS. Al-Fatihah ayat 6-7, QS. Al-Syu’ara ayat 53, QS. Al-Takwir ayat 27-29, QS. Al-Qard ayat 3-5, QS. Al-Qari’ah ayat 9-11, QS. Al-Quraisy ayat 3-4, QS. Al-Nisa ayat 4-6.

p. Penutupan dengan pertanyaan, seperti terdapat dalam QS. Al-Mulk ayat 30 dan al-Mursalat ayat 50.
Sebagaimana pembuka surat, penutupan surat pun memiliki keindahan tertentu. Alasannya, penutup surat merupakan akhir kesan yang di dengan (dibaca) dari surat bersangkutan. Oleh karena itu, penutup surat memuat kandungan yang sarat dengan makna.[5]





BAB III

PENUTUP


Kesimpulan

Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.

Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. ketiga, dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surat. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam 23 surat. kelima, dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam); terdapat dalam 15 surat

Khawatim merupakan bentuk jamak dari kata khatim , yang berarti penutup atau penghabisan. Secara bahasa, fawatih al-suwar berarti penutup surat-surat Al-Quran. Menurut istilah. Fawatih al-suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surat-surat Alquran yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya.



DAFTAR PUSTAKA
al-Hasni, Mahmud bin Alawi al-Maliki, Mutiara Ilmu-ilmu Al-Quran, Bandung, Pustaka Setia, 1998.
Chirzin, Muhammad, Al-Quran dan Ulumul Qur’an, Yogyakarta, PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998.
Rofi’i, Ahmad & Ahmad Syadali, Ulumul Quran I, Bandung, Pustaka Setia, 1997.
Supiana, & M. Karman, Ulum Quran, Bandung, Pustaka Islamika: 2002.
[1]Drs. Muhammad Chirzin, Al-Quran dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), h. 61.
[2]Supiana, M, Ag- M. Karman, M. Ag. Ulum Quran, (bandung: Pustaka Islamika: 2002), h.172-178.
[3]Drs. H. Ahmad Rofi’i. H. Ahmad Syadali, M.A. Ulumul Quran I, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 186-189.
[4]Ibid. h. 190-192.
[5]Drs. Mahmud bin Alawi al-Maliki al-Hasni, Mutiara Ilmu-ilmu Al-Quran, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 299.
http://makalah85.blogspot.com/2008/11/ilmu-fawatih-as-suwar-wa-khawatim.html